Inspirasi Lifestyle Opini Tips dan Trik Tulisan

MENJADI SIMPEL ITU TIDAK SIMPEL. INI TANTANGANNYA

By : Rifqi Rahman

Editor : Rifqi Rahman

Hidup simpel di tengah pergaulan yang ada-ada saja ini adalah pilihan yang tepat lo. Bayangkan, jika kita harus melirik segala sesuatu yang dipunyai orang lain dan itu bagus, kemudian kita jadi ngiler untuk juga memilikinya, habislah kita digerus arus. Apalagi pola hidup zaman sekarang juga telah beraneka ragam, menyajikan hal keren dan kekinian, kemudian kita menjadi bingung bagaimana gaya hidup yang perlu kita ikuti. In the end kita jatuh pada suatu kondisi yang tidak ada habisnya, tidak pernah selesai, tidak pernah puas, dan kita menjadi korban dari selera massal itu.

Itu masih dari tataran teknis bagaimana menjalani hidup, belum lagi tentang pola pikir kita. Herannya, zaman sekarang ini ternyata lebih menyukai hal-hal yang berbelit, kaya konsep, refrensi yang bejibun, gaya berpikir yang relate dengan segala macam disiplin ilmu pengetahuan tanpa ada fokus dan tujuan, obrolan seolah seru jika di dalamnya ada konten yang mencoba men-cover semua aspek kehidupan kemudian mencoba menyelesaikannya. Keren.

Padahal, tentang pola pikir ini, akan menjadi efektif jika alurnya sederhana tapi mengena terhadap inti masalah yang dihadapi. Logikanya simpel tapi tepat menghujam jantung permasalahan. Bukan muter-muter mengelilingi masalah tanpa tepat menusuk inti pokok masalah.

Nah, itulah mengapa di zaman yang serba kompleks ini kita wajib menjadi orang sederhana, simpel. Kita menjadi diri sendiri saja, dengan apa yang kita punya, memakai apa yang ada, bertindak jelas dengan pola pikir yang jelas dan tidak berbelit dan penuh alibi.

Namun, entah mengapa menjadi sederhana (simple) juga tidak mudah lo, menjadi simpel juga mempunyai tantangan dan rintangan yang harus dihadapi. Sebab, simpel bertentangan dengan pola hidup dewasa ini yang kompleks itu, penuh asesoris, penuh drama.

Berikut adalah tantangan dan rintangan yang perlu kita ketahui jika kita memutuskan untuk menjadi simpel. Here we go…!

Simpel dianggap bodoh

Dianggap bodoh via freepik.com 

Di zaman yang kelewat modern ini, menjadi sederhana atau simpel justru dianggap sebagai kebodohan. Simpel dianggap biasa saja, tidak menantang. Bahkan sebagian orang justru senang jika hidupnya itu penuh dengan kesulitan dan kompleks, penuh drama, dan di situ orang tertentu ini merasa hebat. Hebat yang aneh.

Sesuatu yang ribet itu justru dianggap sebagai kegeniusan dan keluasan pengetahuan. Semakin ruet hidup seseorang maka ia semakin qualified sebagai genius dan luas pengetahuannya. Sedangkan simpel justru dianggap sebagai hal yang datar-datar saja, dianggap dangkal. Biasanya akan muncul ujaran, “Mengapa cuma segini saja?”

Padahal, jika mau berpikir, rumus-rumus fisika atau kimia yang simpel itu adalah buah kerja keras untuk mampu meramu pengetahuan yang kompleks sampai akhirnya ekstrak rumus itu lahir. Albert Einstein misalnya dengan rumus sederhananya, E = MC2, itu adalah hasil kerja keras, sampai Einstein sendiri menyatakan, “Menyederhanakan sebuah pengetahuan membutuhkan kerja keras”. Dengan demikian, hal yang kompleks itu justru adalah rumus yang belum selesai, dan orang-orang yang ribet dengan gaya hidup dan pola pikirnya itu dapat disimpulkan sebagai orang-orang yang belum matang, masih labil, belum selesai rumus hidupnya. Sedangkan orang-orang yang sederhana itu adalah orang-orang yang sudah finish dengan dirinya, tinggal menentukan saja what’s the next-nya.

 

Kecenderungan jalan pintas

Bukan jalan pintas via pixabay.com

Tapi hati-hati jika kita hendak menyederhanakan sesuatu. Biasanya kita akan terjebak pada kepentingan pribadi. Sebab betul adanya bahwa tidak semua orang yang menyederhanakan sesuatu itu mempunyai tujuan baik. Sebagian orang memang ada yang menyimpan agenda jalan pintas untuk kepentingannya sendiri.

Demikian, kita dalam menyederhanakan sesuatu, baik itu konsep atau gaya hidup jangan sampai menjadi sesuatu yang justru merugikan orang lain. Boleh baik bagi diri sendiri tapi jangan sampai merugikan orang lain. Kalau perlu, hidup simpel yang kita anut dapat menginspirasi orang lain.

 

Menjadi simpel memakan waktu

Memakan waktu via freepik.com

Sebagaimana yang dikatakan Einstein sebelumnya bahwa menyederhanakan sesuatu itu bukanlah pekerjaan mudah, itu adalah kerja keras. Karenanya, apapun yang kita mau sederhanakan itu akan memakan waktu yang panjang. Penyederhanaan akan melewati proses negoisasi panjang dan melelahkan, hal yang kita sederhanakan perlu diperhitungkan singgungannya dengan sekitarnya supaya save, tidak menyingung, mengganggu atau merugikan hal lain.

Demikianlah tantangan yang akan kita hadapi ketika kita memutuskan untuk menjadi simpel dalam hidup. Jangan sampai tidak pede menjadi diri kita yang sederhana, sebab sederhana itu adalah hasil dari proses yang panjang, melewati lorong pemikiran yang meletihkan, hasil otak-atik serangkaian konsep dan refrensi yang bejibun dan kita berhasil mengekstraknya menjadi sederhana. Ingat, simpel itu bukan berarti bodoh, justru simpel itu adalah genius, karena itu adalah keberhasilan dalam meramu bahan-bahan hidup yang ada-ada saja ini.

Are you alive? Make it simple!

Media Patner

Hosting Unlimited Indonesia

Note:

Sebagian hasil dari penggunaan layanan dan produk Starla Education akan didonasikan untuk LKSA/Panti Asuhan Roisus Shobur. | Kamu juga bisa ikut langsung berdonasi melalui kitabisa.com/pesantrensosial

KIRIM TULISAN UNTUK STARLA

Jadilah Kontributor dan Mulailah Menginspirasi!
Saatnya Kita Peduli, Berbagi dengan Karya dan Bermanfaat Bagi Sesama.